Jumat, 20 Mei 2011

Prefer , Better Than, Would Rather

1. I Prefer to play football instead of basketball.
2. My father Prefer drinking coffee to smoke.
3. My mother Prefer watching news.
4. My uncle would Prefer speak english instead of Spain.
5. I Prefer otomotif.


6. my Father like Ninja Better Than Ducati.
7. uncle like bicycling Better Than ride motorbike.
8. budi like red Better Than Black
9. Grandpa like reading paper Better Than reading magazine.
10.My Brother like classic car Better Than modern car.


11. My sister Would Rather Justin Bieber than Avril Lavigne.
12. I Would Rather cold than hot.
13. My mother Would Rather play Badminton than play tennis.
14. My Grandpa Would Rather Drink Coffee than Milk.
15. My grandma would rather Cooking than Watching TV.

Kamis, 14 April 2011

Conjunction

Benefits of Liquid Vitamin

Vitamins and minerals can be absorbed by the body in a number of ways. They first enter our body through the food we eat. Secondly, we can take vitamin supplements to increase the amount of pertinent vitamins and minerals. There are different methods of taking medication and one of the most common methods is absorbing it in its liquid form. Do the advantages of liquid vitamins far outweigh its disadvantages – if there are any? Read on and find out.
Although liquid vitamins may taste worse than vitamins in flavored, chewable tablet forms, they are however easier to absorb. There are numerous cases in which children have problems with choking, breathing and swallowing simply because of their inability to absorb medication or vitamins in this form.
This is the same problem as well for adults who have lost their ability to control their jaws or are unable to digest anything that is not in liquid form.
Because of its form, liquid vitamins can be assimilated immediately into the blood stream for a more systemic administration of the vitamin and its average absorption rate is approximately 90 to 98%. It is also three to five times more concentrated than vitamin pills and this lead to higher bio-activity and greater therapeutic benefits.
Have you ever wondered whether or not liquid vitamins contained oxidants as well? Vitamins E, C and A are examples of antioxidants and they are commonly found in vitamin supplements but what about liquid vitamins?
And the answer is an absolute YES. Liquid vitamins must in fact contain such antioxidants or they’ll prove to be ineffective compared to other vitamins. Remember that the most important of all antioxidants – Vitamins A, C and E – are not internally produced by the body so they must be a regular fixture in our diet. Antioxidants are our main defense against effects of damaging oxidation reactions. Antioxidants are our best weapons against suffering from any form of cancer. Without it, we are basically weaker and less healthy.
One reason why people refuse to acknowledge the benefits of liquid vitamins is because of the supposed destruction by digestive acids of any vitamin or mineral that it does not recognize as part of the process of digestion. The opposite is, in fact true. Our digestive system actually prefers or is able to better absorb liquid vitamins and minerals rather than those made in pill or capsule form.
A vitamin pill or tablet has to be digested completely before it can benefit the human body. It must be broken down into absorbable nutrients or only up to thirty percent of it will be absorbed by the human body. Liquid vitamins however provide a better and easier solution for the digestive system. Because it does not depend in any way on mechanical digestion, an estimated 90% of it can be absorbed directly by the body.
It’s vital to remember that digestion does not mainly function to destroy vitamins and minerals but rather to transform them into substances it can use to improve the general constitution of the body.
Another problem posed is the amount of colloidal minerals found in liquid vitamins. Are they harmful or not?
In truth, even plants and fruits contain a trace of such minerals in them. Apples, for instance, contain 3-5 mg of aluminum as it’s one of the most abundant elements that can be found in the surface of the Earth. But do you hear anyone telling you that apples are dangerous to your health? On the contrary, what we are more likely to hear is that an apple a day keeps the doctor away.
And so it must be with liquid vitamins as well. Containing a slight amount of colloidal mineral doesn’t mean it’s bad for our health right away. Colloidal minerals, are above all else, naturally occurring elements and can not therefore be avoided.

Tugas Softskill ( yes or no question )

latihan 1
1. A: do you know my brother?
B: no, I don’t
2. A: Does jane eats lunch at the cafeteria everyday?
B: yes, she does
3. A: does that pen belonge to you?
B: yes, jane does
4. A: are the students speak English well in this class?
B: yes, they are
5. A: did you sleep well last night?
B: yes, I did
6. A: did Ann and jim came to class yesterday?
B: no, they didn’t
7. A: are you studying your grammar book?
B: yes, I am
8. A: are the children watching tv?
B: no, the aren’t
9. A: are Tim Wilson is in your astronomy class?
B: yes, he is
10. A: was it foggy yesterday?
B: no, it wasn’t
11. A: will you be at home tonight?
B: no, I won’t
12. A: is Jason going to work tomorrow?
B: no, Jason isn’t 
Latihan 5
1. A: when/what time did you get up this morning?
B: at 7:30
2. A: where you get lunch today?
B: at he cafeteria
3. A: what/when time did you lunch?
B: at 12:15
4. A: why you eat in cafeteria?
B: because the food is good
5. A: where your aunt and uncle live?
B: in Chicago
6. A: when you going to visit your aunt and uncle?
B: next week
7. A: what/when time you will get home?
B: around six
8. A: where is George going to study?
B: at the library
9. A: why George studies at the library?
B: because it’s quite
10. A: where I can catch a bus?
B: at the corner
11. A: what/when time you have to leave?
B: ten o’clock
12. A: where was you living?
B: in japan

Minggu, 14 November 2010

Manusia Dan Penderitaan

SEKILAS
Penderitaan senantiasa hadir dalam hidup manusia. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Yang berbeda adalah sikap manusia dalam menghadapi penderitaan itu. Ada orang yang mengambil sikap yang fatal, yaitu bunuh diri, mengakhiri hidup. Karena merasa tidak sanggup menghadapi persoalan hidupnya. Namun, benarkah ia tidak sanggup menghadapi persoalannya? Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk tidak cepat putus asa, apalagi ingin mengakhiri hidupnya, ketika beban hidup menimpa hidup mereka. Sebab mereka pasti mampu mengatasinya bersama dengan Tuhan.

PENJELASAN TEKS
Kisah Ayub, dengan penderitaan yang dialaminya, seringkali dijadikan referensi bagaimana seharusnya orang beriman menghadapi penderitaan. Biasanya penekanan seringkali diambil dari akhir kitab Ayub, di mana keadaannya kemudian dipulihkan (42:7-17). Pergumulan Ayub sendiri, yang memunculkan sikap putus asanya, kurang disoroti. Padahal justru melalui pergumulan Ayub, kita dapat menemukan nilai-nilai yang menarik dalam kita menghadapi penderitaan.

Penderitaan dalam hidup Ayub
Dalam cerita Ayub, diperlihatkan bahwa penderitaan Ayub sangat luar biasa. Ia kehilangan harta bendanya (1:13-17), dan juga kehilangan anak-anaknya (1:18-19). Ayub sendiri pun mengalami penyakit barah, borok yang menyelubungi seluruh tubuhnya (2:7-8). Penderitaan itu makin bertambah ketika sang istri tidak memberikan dukungan terhadap derita yang dialaminya (2:9-10). Memang kemudian datang tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar yang memberi kekuatan pada Ayub (2:11-13). Akan tetapi dalam dialog selanjutnya, mereka justru menyalah-nyalahkan Ayub. Mereka datang untuk menghakimi Ayub (lihat mulai pasal 4).

Sikap Ayub
Pada awalnya, Ayub mencoba menerima penderitaan dalam hidupnya (1:20-21). Kehilangan yang bertubi-tubi dan beruntun dalam hidupnya, tentu saja membuatnya bersedih. Ini ditunjukkan dengan sikap mengoyak jubah dan menggunduli kepalanya. Cara yang ditunjukkannya itu lazim dilakukan orang-orang pada jaman Ayub untuk menyikapi penderitaan dalam hidup mereka. Tetapi Ayub juga menunjukkan sikap yang tegar, Katanya, "Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." (ay. 21).
Ketegaran Ayub dalam menghadapi penderitaan dalam hidupnya juga ada batasnya. Karena itu ia meratap ingin mati saja rasanya (3:1-19). Ayub juga manusia. Setelah kehilangan harta benda, anak-anaknya, dan dukungan istrinya, ia mulai menyesali hidupnya. Kalau hidupnya hanyalah berupa rangkaian penderitaan dan kehilangan. Mengapa Tuhan mengijinkan ia hidup? Ia menyesali hari kelahirannya bahkan juga menyesali kegembiraan yang menyertai kehadirannya di dunia. Seandainya itu semua tidak ada, tentu akan lebih baik (ay. 1-7). Ayub juga  menyesali mengapa ia hidup sewaktu dilahirkan, mengapa ada pangkuan yang merawatnya, mengapa ada buah dada yang menghidupinya. Seandainya itu semua tidak ada maka ia sudah tenang dalam istirahat (ay.11-13).
Sikap Ayub ini seakan-akan mewakili sikap umat manusia dalam menyikapi penderitaan yang sering dialami oleh manusia. Menyesali kehidupan yang sudah terangkai dan terjalani. Buat apa itu semua terjadi kalau pada akhirnya penderitaan yang harus mereka tanggung. Sungguh tidak mudah untuk tetap bisa menerima penderitaan yang menimpa hidup ini dengan hati yang selalu bersyukur. Karena itu, kerap orang mengambil jalan pintas, mengakhiri hidup. Benarkah hanya kematian yang akan menyelesaikan pergumulan dan penderitaan manusia? Tidak!
Kisah Ayub di bagian menjelang akhir justru menunjukkan sikap yang perlu ditiru.
Dalam 39:34-38, Ayub mengakui kalau dirinya adalah ciptaan. Setelah melewati refleksi yang panjang, Ayub sampai pada sebuah pemahaman: dirinya ciptaan yang rapuh. Itu kenyataan hidup kita. Ayub belajar menerima dirinya. Manusia adalah ciptaan yang rapuh. Kekuatan justru bukan pada dirinya, tetapi justru bukan pada dirinya tetapi pada Tuhan. Oleh karena itu, sebuah ciptaan harus berpaut pada PENCIPTA-nya.

Manusia dan Penderitaan

SEKILAS
Penderitaan senantiasa hadir dalam hidup manusia. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Yang berbeda adalah sikap manusia dalam menghadapi penderitaan itu. Ada orang yang mengambil sikap yang fatal, yaitu bunuh diri, mengakhiri hidup. Karena merasa tidak sanggup menghadapi persoalan hidupnya. Namun, benarkah ia tidak sanggup menghadapi persoalannya? Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk tidak cepat putus asa, apalagi ingin mengakhiri hidupnya, ketika beban hidup menimpa hidup mereka. Sebab mereka pasti mampu mengatasinya bersama dengan Tuhan.

PENJELASAN TEKS
Kisah Ayub, dengan penderitaan yang dialaminya, seringkali dijadikan referensi bagaimana seharusnya orang beriman menghadapi penderitaan. Biasanya penekanan seringkali diambil dari akhir kitab Ayub, di mana keadaannya kemudian dipulihkan (42:7-17). Pergumulan Ayub sendiri, yang memunculkan sikap putus asanya, kurang disoroti. Padahal justru melalui pergumulan Ayub, kita dapat menemukan nilai-nilai yang menarik dalam kita menghadapi penderitaan.

Penderitaan dalam hidup Ayub
Dalam cerita Ayub, diperlihatkan bahwa penderitaan Ayub sangat luar biasa. Ia kehilangan harta bendanya (1:13-17), dan juga kehilangan anak-anaknya (1:18-19). Ayub sendiri pun mengalami penyakit barah, borok yang menyelubungi seluruh tubuhnya (2:7-8). Penderitaan itu makin bertambah ketika sang istri tidak memberikan dukungan terhadap derita yang dialaminya (2:9-10). Memang kemudian datang tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar yang memberi kekuatan pada Ayub (2:11-13). Akan tetapi dalam dialog selanjutnya, mereka justru menyalah-nyalahkan Ayub. Mereka datang untuk menghakimi Ayub (lihat mulai pasal 4).

Sikap Ayub
Pada awalnya, Ayub mencoba menerima penderitaan dalam hidupnya (1:20-21). Kehilangan yang bertubi-tubi dan beruntun dalam hidupnya, tentu saja membuatnya bersedih. Ini ditunjukkan dengan sikap mengoyak jubah dan menggunduli kepalanya. Cara yang ditunjukkannya itu lazim dilakukan orang-orang pada jaman Ayub untuk menyikapi penderitaan dalam hidup mereka. Tetapi Ayub juga menunjukkan sikap yang tegar, Katanya, "Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." (ay. 21).
Ketegaran Ayub dalam menghadapi penderitaan dalam hidupnya juga ada batasnya. Karena itu ia meratap ingin mati saja rasanya (3:1-19). Ayub juga manusia. Setelah kehilangan harta benda, anak-anaknya, dan dukungan istrinya, ia mulai menyesali hidupnya. Kalau hidupnya hanyalah berupa rangkaian penderitaan dan kehilangan. Mengapa Tuhan mengijinkan ia hidup? Ia menyesali hari kelahirannya bahkan juga menyesali kegembiraan yang menyertai kehadirannya di dunia. Seandainya itu semua tidak ada, tentu akan lebih baik (ay. 1-7). Ayub juga  menyesali mengapa ia hidup sewaktu dilahirkan, mengapa ada pangkuan yang merawatnya, mengapa ada buah dada yang menghidupinya. Seandainya itu semua tidak ada maka ia sudah tenang dalam istirahat (ay.11-13).
Sikap Ayub ini seakan-akan mewakili sikap umat manusia dalam menyikapi penderitaan yang sering dialami oleh manusia. Menyesali kehidupan yang sudah terangkai dan terjalani. Buat apa itu semua terjadi kalau pada akhirnya penderitaan yang harus mereka tanggung. Sungguh tidak mudah untuk tetap bisa menerima penderitaan yang menimpa hidup ini dengan hati yang selalu bersyukur. Karena itu, kerap orang mengambil jalan pintas, mengakhiri hidup. Benarkah hanya kematian yang akan menyelesaikan pergumulan dan penderitaan manusia? Tidak!
Kisah Ayub di bagian menjelang akhir justru menunjukkan sikap yang perlu ditiru.
Dalam 39:34-38, Ayub mengakui kalau dirinya adalah ciptaan. Setelah melewati refleksi yang panjang, Ayub sampai pada sebuah pemahaman: dirinya ciptaan yang rapuh. Itu kenyataan hidup kita. Ayub belajar menerima dirinya. Manusia adalah ciptaan yang rapuh. Kekuatan justru bukan pada dirinya, tetapi justru bukan pada dirinya tetapi pada Tuhan. Oleh karena itu, sebuah ciptaan harus berpaut pada PENCIPTA-nya.

Minggu, 31 Oktober 2010

Tentang BAAK

Universitas Gunadarma adalah salah satu Universitas yang unggul dalam TI (Teknologi Informasi). Hampir semua kegiatan akademik atau non akademik mahasiswa/i melalui link-link yang sudah tersedia. Salah satunya BAAK Online ..

BAAK Universitas Gunadarma adalah biro yang menangani segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di Universitas Gunadarma dan administrasi akademik bagi seluruh mahasiswa Universitas Gunadarma. Bagian yang terdapat di BAAK antara lain :
  1. BAAK Fakultas (Ilmu Komputer, Ekonomi, Teknik Sipil & Perencanaan, Teknologi Industri, Psikologi, dan Sastra);
  2. Bagian Ujian Semester dan Bank Soal;
  3. Bagian Koordinasi Perkuliahan
    • Sub Bagian Jadwal Kuliah;
    • Sub Bagian Koordinasi Mata Kuliah dan Penasihat Akademik;
    • Sub Bagian Penghubung dan Pendamping Dosen.
  4. Bagian Monitoring Kuliah.
    • Sub Bagian Monitoring Kehadiran Dosen;
    • Sub Bagian Monitoring Kehadiran Mahasiswa.
Tentunya sebagai bagian yang sangat penting terlebih lagi harus melayani informasi ke ribuan orang, BAAK harus menerapkan sistem informasi yang cepat dan tepat. Maka hadirlah BAAK Online, dengan masuk ke link http://Baak.gunadarma.ac.id..

Manfaatnya adalah para mahasiswa dapat melihat informasi-informasi seperti berita tentang perkuliahan, kalender akademik, jadwal perkuliahan, jadwal pengisian KRS, jadwal ujian, dll tanpa harus datang ke kampus. BAAK juga menyediakan fasilitas online secara Real Time yang bermanfaat jika ada mahasiswa yang bertanya, akan langsung dijawab & dapat dilihat atau melalui email.

Fitur-Fitur di BAAK Online

Fitur yang terdapat di BAAK online :

1.Home : halaman utama di BAAK.

2. FAQ : Berisikan informasi tentang apa saja yang ada di Universitas Gunadarma, seperti sarana dan prasarana, jurusan-jurusan yang berada di Gunadarma, program magister dan doctor, layanan IT, dan lain-lain.

3.Situs SAP : Silabus/materi kuliah.

4.Buku Pedoman : berisikan buku pedoman untuk mahasiswa.

Selasa, 28 September 2010

kebudayaan Aceh

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam. Masing-masing budaya daerah saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebudayaan daerah lain maupun kebudayaan yang berasal dari luar Indonesia. Salah satu kebudayaan tersebut adalah kebudayaan Aceh. Sejarah dan perkembangan suku bangsa Aceh juga menarik perhatian para antropolog seperti Snouck Hurgronje. Dilihat dari sisi kebudayaannya, Aceh memiliki budaya yang unik dan beraneka ragam. Kebudayaan Aceh ini banyak dipengaruhi oleh budaya-budaya melayu, karena letak Aceh yang strategis karena merupakan jalur perdagangan maka masuklah kebudayaan Timur Tengah. Beberapa budaya yang ada sekarang adalah hasil dari akulturasi antara budaya melayu, Timur Tengah dan Aceh sendiri.
Suku bangsa yang mendiami Aceh merupakan keturunan orang-orang melayu dan Timur Tengah hal ini menyebabkan wajah-wajah orang Aceh berbeda dengan orang Indonesia yang berada di lain wilayah. Sistem kemasyarakatan suku bangsa Aceh, mata pencaharian sebagian besar masyarakat Aceh adalah bertani namun tidak sedikit juga yang berdagang. Sistem kekerabatan masyarakat Aceh mengenal Wali, Karong dan Kaom yang merupakan bagian dari sistem kekerabatan.
Agama Islam adalah agama yang paling mendominasi di Aceh oleh karena itu Aceh mendapat julukan ”Serambi Mekah”. Dari struktur masyarakat Aceh dikenal gampong, mukim, nanggroe dan sebagainya. Tetapi pada saat-saat sekarang ini upacara ceremonial yang besar-besaran hanya sebagai simbol sehingga inti dari upacara tersebut tidak tercapai. Pergeseran nilai kebudayaan tersebut terjadi karena penjajahan dan fakttor lainnya.
Dari hal-hal yang telah diuraikan diatas menurut saya menarik, maka saya mengangkat makalah ini dengan judul ”Kebudayaan Suku Aceh”.

A. LETAK
            Kelompok etnik Aceh adalah salah satu kelompok "asal" di daerah Aceh yang kini merupakan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Orang Aceh yang biasa menyebut dirinya Ureueng Aceh, menurut sensus penduduk tahun 1990 mencatat jumlah sebesar 3.415.393 jiwa, dimana orang Aceh tentunya merupakan kelompok mayoritas. Orang Aceh merupakan penduduk asli yang tersebar populasinya di Daerah Istimewa Aceh. Mereka mendiami daerah-daerah Kotamadya Sabang, Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Selatan, dan Aceh Barat. Bahasa yang digunakan orang Aceh termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia yang terdiri dari beberapa dialek, antara lain dialek Pidie, Aceh Besar, Meulaboh, serta Matang. Di Propinsi D.I. Aceh terdapat pula sedikitnya tujuh sukubangsa lainnya, yaitu : Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Simeuleu, Kluet, dan Gumbok Cadek. Identitas bersama berdasarkan ikatan kebudayaan dan agama mencerminkan kesatuan suku-suku bangsa di propinsi ini. Dalam pergaulan antarsuku bangsa jarang sekali penduduk asli Aceh menyebut dirinya orang Gayo, Alas, Tamiang, dan seterusnya. Mereka lebih suka menyebut diri sebagai "Orang Aceh", sehingga Aceh patut dipandang sebagai suatu sukubangsa besar yang didukung oleh sejumlah sub-sukubangsa dengan identitas masing-masing. Ciri-ciri ini pula yang mengukuhkan propinsi Aceh sebagai Daerah Istimewa.

B. KEHIDUPAN MASYARAKAT
1. Mata Pencaharian
            Mata pencaharian pokok orang Aceh adalah bertani di sawah dan ladang, dengan tanaman pokok berupa padi, cengkeh, lada, pala, kelapa, dan lain-lain. Masyarakat yang bermukim_ di sepanjang pantai pada umumnya menjadi nelayan.
            Sebagian besar orang Alas hidup dari pertanian di sawah atau ladang, terutama yang bermukim di kampung (kute). Tanam Alas merupakan lumbung padi di Daerah Istimewa Aceh. Di samping itu penduduk beternak kuda, kerbau, sapi, dan kambing, untuk dijual atau dipekerjakan di sawah.
            Mata pencaharian utama orang Aneuk Jamee adalah bersawah, berkebun, dan berladang, serta mencari ikan bagi penduduk yang tinggal di daerah pantai. Di samping itu ada yang melakukan kegiatan berdagang secara tetap (baniago), salah satunya dengan cara menjajakan barang dagangan dari kampung ke kampung (penggaleh). Matapencaharian pada masyarakat Gayo yang dominan adalah berkebun, terutama tanaman kopi.
            Matapencaharian utama orang Tamiang adalah bercocok tanam padi di sawah atau di ladang. Penduduk yang berdiam di daerah pantai menangkap ikan dan membuat aran dari pohon bakau. Adapula yang menjadi buruh perkebunan atau pedagang.

2. Sistem Kekerabatan
            Dalam sistem kekerabatan, bentuk kekerabatan yang terpenting adalah keluarga inti dengan prinsip keturunan bilateral. Adat menetap sesudah menikah bersifat matrilokal, yaitu tinggal di rumah orangtua istri selama beberapa waktu. Sedangkan anak merupakan tanggung jawab ayah sepenuhnya.
            Pada orang Alas garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal atau menurut garis keturunan laki-laki. Sistem perkawinan yang berlaku adalah eksogami merge, yaitu mencari jodoh dari luar merge sendiri. Adat menetap sesudah menikah yang berlaku bersifat virilokal, yang terpusat di kediaman keluarga pihak laki-laki. Gabungan dari beberapa keluarga luas disebut tumpuk. Kemudian beberapa tumpuk bergabung membentuk suatu federasi adat yang disebut belah (paroh masyarakat).
Dalam sistem kekerabatan tampaknya terdapat kombinasi antara budaya Minangkabau dan Aceh. Garis keturunan diperhitungkan berdasarkan prinsip bilateral, sedangkan adat menetap sesudah nikah adalah uxorilikal (tinggal dalam lingkungan keluarga pihak wanita). Kerabat pihak ayah mempunyai kedudukan yang kuat dalam hal pewarisan dan perwalian, sedangkan ninik mamak berasal dari kerabat pihak ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang disebut rumah tanggo. Ayah berperan sebagai kepala keluarga yang mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya. Tanggung jawab seorang ibu yang utama adalah mengasuh anak dan mengatur rumah tangga.
Pada masyarakat gayo, garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matriokal (angkap). Kelompok kekerabatan terkecil disebut saraine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen).
Dalam sistem kekerabatan masyarakat Tamiang digunakan prinsip patrilineal, yaitu menarik garis keturunan berdasarkan garislaki-laki. Adat menetap sesudah nikah yang umum dilakukan adalah adat matrilokal, yaitu bertempat tinggal di lingkungan kerabat wanita.

3. Sistem Pelapisan Sosial
            Pada masa lalu masyarakat Aceh mengenal beberapa lapisan sosial. Di antaranya ada empat golongan masyarakat, yaitu golongan keluarga sultan, golongan uleebalang, golongan ulama, dan golongan rakyat biasa. Golongan keluarga sultan merupakan keturunan bekas sultan-sultan yang pernah berkuasa. Panggilan yang lazim untuk keturunan sultan ini adalah ampon untuk laki-laki, dan cut untuk perempuan. Golongan uleebalang adalah orang-orang keturunan bawahan para sultan yang menguasai daerah-daerah kecil di bawah kerajaan. Biasanya mereka bergelar Teuku. Sedangkan para ulama atau pemuka agama lazim disebut Teungku atau Tengku.
Pada masa lalu orang Aneuk Jamee dibedakan atas tiga lapisan masyarakat, yaitu golongan datuk sebagai lapisan atas; golongan hulubalang dan ulama, yang terdiri atas tuangku, imam, dan kadi sebagai lapisan menengah; dan rakyat biasa sebagai lapisan bawah. Sekarang ini sistem pelapisan sosial tersebut sudah tidak diberlakukan lagi dalam masyarakat. Yang kini dianggap sebagai orang terpandang adalah orang kaya, terdidik, dan pemegang kekuasaan.
            Pada masa masyarakat Tamiang dikenal penggolongan masyarakat atas tiga lapisan sosial, yakni ughang bangsawan, ughang patoot, dan ughang bepake. Golongan pertama terdiri atas raja beserta keturunannya. yang menggunakan gelar Tengku untuk laki-laki dan Wan untuk perempuan; golongan kedua adalah orangĂ‚­orang yang memperoleh hak dan kekuasaan tertentu dari raja, yang memperoleh gelar Orang (Kaya); dan golongan ketiga merupakan golongan orang kebanyakan.

C. SISTEM KEMASYARAKATAN
            Bentuk kesatuan hidup setempat yang terkecil disebut gampong (kampung atau desa) yang dikepalai oleh seorang geucik atau kecik. Dalam setiap gampong ada sebuah meunasah (madrasah) yang dipimpin seorang imeum meunasah. Kumpulan dari beberapa gampong disebut mukim yang dipimpin oleh seorang uleebalang, yaitu para panglima yang berjasa kepada sultan. Kehidupan sosial dan keagamaan di setiap gampong dipimpin oleh pemuka-pemuka adat dan agama, seperti imeum meunasah, teungku khatib, tengku bile, dan tuha peut (penasehat adat).
Pada masa lalu Tanah Alas terbagi atas dua daerah kekuasaan yang dipimpin oleh dua orang kejerun, yaitu daerah Kejerun Batu Mbulan dan daerah Kejerun Bambel. Kejerun dibantu oleh seorang wakil yang disebut Raje Mude, dan empat unsur pimpinan yang disebut Raje Berempat. Setiap unsur pimpinan Raje Berempat membawahi beberapa kampung atau desa (Kute), sedangkan masing-masing kute dipimpin oleh seorang Pengulu. Suatu kute biasanya dihuni oleh satu atau beberapa klen (merge). Masing-masing keluarga luas menghuni sebuah rumah panjanga.
Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari : reje, petue, imeum, dan sawudere. Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imeum, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat.

D. RELIGI
Aceh termasuk salah satu daerah yang paling awal menerima agama Islam. Oleh sebab itu propinsi ini dikenal dengan sebutan "Serambi Mekah", maksudnya "pintu gerbang" yang paling dekat antara Indonesia dengan tempat dari mana agama tersebut berasal. Meskipun demikian kebudayaan asli Aceh tidak hilang begitu saja, sebaliknya beberapa unsur kebudayaan setempat mendapat pengaruh dan berbaur dengan kebudayaan Islam. Dengan demikian kebudayaan hasil akulturasi tersebut melahirkan corak kebudayaan Islam-Aceh yang khas. Di dalam kebudayaan tersebut masih terdapat sisa-sisa kepercayaan animisme dan dinamisme.

E. BAHASA
Bahasa yang digunakan orang Aceh termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia yang terdiri dari beberapa dialek, antara lain dialek Pidie, Aceh Besar, Meulaboh, serta Matang.
Sebagai alat komunikasi sehari-hari orang Alas menggunakan bahasa sendiri, yaitu bahasa Alas. Penggunaan bahasa ini dibedakan atas beberapa dialek, seperti dialek Hulu, dialek Tengah, dan dialek Hilir. Dengan demikian orang Alas dibedakan berdasarkan penggunaan dialek bahasa tersebut.
Dilihat dari segi bahasa, kosa kata bahasa Aneuk Jamee yang berasal dari bahasa Minangkabau lebih dominasi daripada kosa kata bahasa Aceh. Penggunaan bahasa Aneuk Jamee dibedakan atas beberapa dialek, antara lain dialek Samadua dan dialek Tapak Tuan.
Bahasa Gayo digunakan dalam percakapaan sehari-hari. Penggunaan bahasa Gayo dibedakan atas beberapa dialek, seperti dialek Gayo Laut yang terbagi lagi menjadi sub-dialek Lut dan Deret, dan dialek Gayo Luwes yang meliputi sub-dialek Luwes, Kalul, dan Serbejadi.
Orang Tamiang memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Tamiang, yang kebanyakan kosa katanya mirip dengan bahasa melayu. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa bahasa Tamiang merupakan salah satu dialek dari bahasa Melayu. Bahasa Tamiang ditandai oleh mengucapkan huruf r menjadi gh, misalnya kata "orang" dibaca menjadi oghang. Sementara itu huruf t sering c, misalnya kata "tiada" dibaca "ciade".

F. KESENIAN
Corak kesenian Aceh memang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam, namun telah diolah dan disesuaikan dengan nilai-nilai budaya yang berlaku. Seni tari yang terkenal dari Aceh antara lain seudati, seudati inong, dan seudati tunang. Seni lain yang dikembangkan adalah seni kaligrafi Arab, seperti yang banyak terlihat pada berbagai ukiran mesjid, rumah adat, alat upacara, perhiasan, dan sebagainnya. Selain itu berkembang seni sastra dalam bentuk hikayat yang bernafaskan Islam, seperti Hikayat Perang Sabil.
Bentuk-bentuk kesenian Aneuk Jamee berasal dari dua budaya yang berasimilasi.. Orang Aneuk Jamee mengenal kesenian seudati, dabus (dabuih), dan ratoh yang memadukan unsur tari, musik, dan seni suara. Selain itu dikenal kaba, yaitu seni bercerita tentang seorang tokoh yang dibumbui dengan dongeng.
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tan saman dan seni teater yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian bines, guru didong, dan melengkap (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa.